Info terupdate ka bandara

Artikel yg dikomentari :

*“TARIF KA BANDARA BISA MURAH JIKA PEMERINTAH BERI PSO”*

Proyek pembangunan prasarana kereta api menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng sudah hampir rampung. Pemerintah juga menargetkan KA bandara itu beroperasi akhir Juli 2017. Untuk mengetahui kesiapan pengoperasian angkutan massal berbasis rel itu, Bisnis mewawancarai *Heru Kuswanto, Direktur Utama PT Railink*, anak usaha patungan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Angkasa Pura (AP) II. Berikut petikannya.

Bagaimana kesiapan PT Railink terkait dengan rencana pengoperasian KA Bandara Soekarno-Hatta pada Juli 2017?

Kami masih commit dengan apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo yang memberikan amanah ke semua pemangku kepentingan proyek ini, termasuk kami PT Railink, PT KAI [Kereta Api Indonesia], AP [Angkasa Pura] II, dan Ditjen Perkeretaapian untuk beroperasi pada Semester 1/2017. Oleh karena itu, kami mengusahakan sarana kereta api Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat beroperasi pada Juni 2017. Kalau ternyata nanti terdapat perubahan waktu operasional setelah pemerintah melihat kondisi di lapangan, itu lain cerita.

Dalam proyek ini, Railink mendapatkan tugas pengadaan sarana kereta api Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kami membeli kereta api yang berupa kereta rel listrik tersebut dari konsorsium Bombardier dan Inka [PT Industri Kereta Api]. Bombardier dalam proyek pembuatan prasarana kereta api Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengerjakan peker-jaan-pekerjaan yang menjadi nyawa kereta api tersebut. Nanti Bombardier menyuplai ke Inka sebagai perakit.

Saya melihat, komponen-komponen yang digunakan dalam pembuatan sarana kereta api Bandara Internasional Soekamo-Hatta tersebut diambil dari pihak-pihak yang selama ini telah terbukti kualitasnya dalam sektor transportasi, baik di dalam maupun luar negeri.

Untuk memastikan kualitas kom-ponen-komponen sarana KA bandara Soekarno-Hatta, saya datangi sendiri ke pabrik-pabrik tempat Inka memesan komponen tersebut seperti ke Jerman, China, dan sebagainya. Saya sudah dua kali ke China, terakhir Minggu lalu ke China. Yang belum, saya ke Italia dan Republik Ceko. Enggak cukup waktu saya.

Apakah perakitan sudah mulai dilakukan?

Sudah, di Madiun, Jawa Timur. Saya selalu mengingatkan Inka dalam perakitan yang dilakukan untuk terus commit mengingat kami membeli kualitas. Saya beli ke Inka bukan berarti murah lho. Harga pengadaan sarana kereta api bandara internasional tersebut bersaing. Saya tidak mengatakan mahal atau murah, tapi kompetitiflah.

Permintaan komponen sarana KA Bandara Soekarno-Hatta dari pabrik yang berkualitas apakah dilakukan sejak awal?

Ketika ada lelang, kita sudah sampaikan bahwa Railink menghendaki kualitas karena segmen kita di medium class. Kita tidak mau sembarangan. Makanya biaya pengadaan sarana KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta tersebut kurang lebih bisa 16 sampai 20 kalinya kereta api second yang didatangkan KAI Commu-ter Jabodetabek [KCJ] dari Jepang.

Apabila harga per kereta second yang dipesan KCJ sebesar Rpl miliar, harga sarana kereta api Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang merupakan kereta api baru bisa mencapai sekitar Rp 16 miliar-Rp20 miliar.

Bagaimana pengaruh biaya pengadaan sarana tersebut ke tarif?

Ya, pasti ada. Pengaruh biaya pengadaan rolling stock terhadap penentuan tarif tidak terlalu banyak karena perubahan harga hanya terjadi pada selisih kurs saja. Yang nanti agak banyak, ketika kami harus memasukkan beban investasi dari sisi lain, termasuk dari tanah yang eskalasinya signifikan. Terkait dengan harga rolling stock, memang ada eskalasi perhitungan terkait dari harga awal, tapi kalau dolarnya sudah dipatok dari awal. Ketika berbicara mengenai spesifikasi, harga yang disepakati dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Kalau harganya USS10 juta ya tetap USS10 juta. Hanya saja, dalam perjalanannya ketika Railink melakukan pembayaran, ya dolar menguat. Nasib Railink, risiko currencies saja.

Berapa tarif yang akan dikenakan terhadap penumpang KA Bandara Soekarno-Hatta ketika dioperasikan?

Angka real-nya sekitar Rp100.000-Rp 150.000. Saya pikir, itu ring-ring yang aman. Terkait dengan tarif, saya menginginkan menjual tarif tiket kereta api Bandara Internasional Soekamo-Hatta dengan harga yang murah biar laris.

Namun, yang menjadi persoalan adalah bisnis tidak bisa seperti itu. Ketika saya berbicara bisnis, berbicara murah itu ada perhitungannya. Dalam menentukan tarif, kami harus memperhitungkan investasi sarana, tanah, konstruksi, dan segala macam.

Hasilnya, tarif yang dikenakan di atas tarif yang kami kehendaki. Kecuali, pemerintah mau melakukan intervensi dengan memberikan public Service obligation [PSO] kepada penumpang kami hingga akhirnya tarif tiket yang dikenakan bisa lebih murah.

Terkait tarif, sebenarnya ada dua hal yang dapat mengoreksi besaran tarif yang akan dikenakan terhadap penumpang. Pertama, hukum pasar yang melakukan koreksi sehingga Railink harus berpikir menurunkan penumpang. Kedua, intervensi pemerintah dengan memberikan penumpang kereta api Bandara Internasional Soekamo-Hatta berupa PSO. Intervensi tersebut dengan perhitungan yang logis dan memperhatikan aspek keekonomian, bukan finansial, guna merangsang industri transportasi umum, mengurangi beban lalu lintas jalan raya, beban konsumsi bahan bakar minyak secara langsung, dan mengurangi kecelakaan. Secara undang-undang, pemberian PSO itu dimungkinkan. Secara peraturan di Indonesia, pemerintah memungkinkan memberikan PSO kepada masyarakat tanpa memandang itu kereta api bandara, atau kereta api lainnya.

Kemampuan dan keinginan masyarakat untuk membayar tiket KA Bandara Soekamo-Hatta berapa besar?

Berdasarkan angka-angka dari konsultan, kemampuan dan keinginan masyarakat sekitar Rp100.000. Kami pakai konsultan.

Berapa jumlah penumpang yang dapat diangkut pada tahun pertama dengan besaran tarif sekitar RplOO.OOO?

Kapasitas sarana kereta api Bandara Soekarno-Hatta per hari sebesar 33.000 penumpang dengan 120 kereta. Hanya saja, pada tahun pertama kemungkinan sarana KA Bandara Soekarno-Hatta yang akan beroperasi sebanyak 80 kereta.

Kondisi tersebut bukan berarti perusahaan tidak siap. Perusahaan masih perlu melihat pola yang paling tepat mengingat kapasitas lintas yang terbatas.

Terkait dengan operasional, apa yang akan menjadi hambatan?

Kapasitas lintas dan permasalahan sosial, yakni perlintasan-perlintasan sebidang yang ada di jalur KA Bandara Internasional Soekamo-Hatta. Padahal, sesuai undang-undang perlintasan sebidang seharusnya ditutup. Pihak yang harus melakukan penutup adalah pemerintah mengingat Railink tidak bisa melakukan penutupan. Sebenarnya, kecepatan kereta api saat ini bisa mencapai 100 km per jam. Namun, kereta api yang ada hanya bisa berjalan dengan kecepatan sekitar 70-80 km per jam. Perlintasan sebidang sangat berpengaruh, terutama yang tidak terjaga, terkait dengan kecepatan yang dapat ditempuh oleh kereta api.

Terkait kapasitas lintas, dari 36 kilometer, jalur kereta api yang mumi untuk kereta api Bandara Internasional Soekamo-Hatta dan hak konsesi berada di kami selama 30 tahun hanya sepanjang 12 kilometer. Sementara sepanjang 24 kilometer, KA Bandara Soekamo-Hatta menggunakan jalur kereta api yang ada.

Kondisi tersebut berarti KA bandara masih harus berbagi dengan KRL Commuter Line dan kereta api lainnya. Oleh karena itu, pemerintah perlu kembali membangun jalur ganda selain jalur ganda yang sudah ada apabila kereta api Bandara Soekamo-Hatta bagus dalam konteks ketepatan waktu, dan sebagainya.

Apakah KA bandara perlu perlakuan khusus mengingat penumpang pesawat harus datang lebih cepat?

Dalam grafik perjalanan kereta yang berlaku 1 April 2017, operasional KA Bandara Soekamo-Hatta sudah masuk. Dengan begitu, KA bandara sudah memiliki slot. Namun, pada April 2017 ini sarana kereta api tersebut belum beroperasi.

Kapan sarana KA Bandara Soekarno-Hatta itu dapat selesai?

Tahun ini pokoknya 10 train set. Kemudian, pertengahan April 2017 keluar dua. Mei 2017, tambah dua train set lagi.

Bagaimana dengan persiapan SDM untuk pengoperasian KA bandara?

Kami sudah siap. Sumber Daya Manusia yang sesuai peraturan seperti masinis sudah kami penuhi dari Oktober 2015. Masinis-masinis tersebut sudah jadi, dan sekarang berada di KCJ terlebih dahulu sembari menunggu beroperasinya KA Bandara Soekar-no-Hatta. Proyek ini mundur. Kami melakukan perekrutan berdasarkan timeline yang kami miliki.

Pewawancara: Yudi Supriyanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s