Tips mudik anak

​RILIS MEDIA

ANAK-ANAK ‘MERANA’ KALA LEBARAN TIBA
Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPA Indonesia) selama ini dikenal dengan nama Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA). Penggunaan nama LPA Indonesia–sebagai pengganti nama Komnas PA–sesuai dengan khittah 1998, yang sekaligus dilakukan sesuai regulasi agar tidak ada lagi kesan dualisme dengan KPAI. Ketua Umum LPA Indonesia adalah Seto Mulyadi, didampingi Samsul Ridwan selaku Sekretaris Jenderal.
Banyak tips mudik ramah anak. Tujuannya agar anak pulang kampung dalam keadaan sehat, selamat, gembira. Tapi tidak semua anak asyik mudik. Walau bebas dari potensi keletihan dan kepanasan akibat perjalanan yang melelahkan, anak-anak yang tidak mudik itu ternyata juga tidak selalu hidup nyaman.
Penyebabnya sebagai berikut.
1) Urusan rumah tangga beralih ke ayah bunda. Belum terbiasa mengerjakan itu semua, ayah bunda capek luar biasa. Badan penat, stres menghebat. Bawaannya jadi gampang marah. Modusnya mulai dari mata mendelik, mulut memekik-mekik, sampai tangan main cubit. Sasaran terdekat siapa lagi kalau bukan anak-anak.
“Sabar, ya. Kalau si mbak saja sanggup bekerja berat sebelas bulan, apalagi semestinya ayah bunda. Sekaligus, ini momen bagus untuk mengajarkan kemandirian kepada sang buah hati.”
2) Ayah bunda juga lupa cara masak di dapur. Tukang sayur dan pasar juga vakum. Solusinya adalah mengajak anak-anak makan fast food. Berhari-hari anak-anak terpaksa mengonsumsi makanan dengan kandungan garam tinggi, lemak tinggi, gula tinggi, nutrisi ala kadarnya.
“Tuh, gaya hidup sehat ternyata memang bermula di meja makan. Empat sehat, lima sempurna, enam halal tetap berlaku saat libur Lebaran.”
3) Ada ayah bunda yang memutuskan menginap di hotel. Masalah nomor 1 dan 2 di atas memang relatif teratasi. Tapi muncul problem baru: ayah bunda tidur lagi tidur lagi, sementara anak-anak diasuh oleh televisi yang menyala sepanjang hari. Apa yang anak-anak tonton luput dari kontrol, karena ayah bunda–itu tadi–asyik dibuai mimpi.
“Ketika raga berada sekamar, batin pun semestinya tidak saling berjauhan. Masa-masa indah di hotel adalah ketika tidak diusik tamu, diganggu tugas kantor.”
4) Senangnya bertamasya ke sentra-sentra wisata terdekat. Kalau di Jakarta, pilihan favorit biasanya Taman Mini, Ancol, Monas, dan Kebun Binatang Ragunan. Waspadalah. Keempat tempat itu pasti penuh sesak oleh pengunjung. Berlipat-gandalah resiko anak hilang, karena tersesat atau bahkan–na’udzubillaah–diculik orang.
“Berikan anak peluit. Saat terpisah di tengah kerumunan, tiup peluit kencang-kencang. Sepakati password tertentu. Kalau ada yang mengaku dikirim ayah bunda untuk menjemput, tapi tak tahu password, berarti dia mungkin sedang mencari mangsa. Temukan petugas dan pos sekuriti selekasnya.”
5) Ada ayah bunda yang mengajak anak-anak ke mal dan pusat perbelanjaan modern lainnya. “Ngilangin suntuk,” kata ayah bunda. Hm, semoga anak-anak tidak mendapat pelajaran keliru bahwa berbelanja–apalagi secara impulsif–sesungguhnya bukan program rehabilitasi atas ketegangan dan kesunyian jiwa.
“Sayangnya perpustakaan dan museum belum tentu buka saat Lebaran. Cuci mata tanpa cuci gudang pasti lebih asyik.”
6) Bergembira ria bersama keluarga walau tak mudik, siapa yang ingat pada anak-anak yatim di panti-panti asuhan? Sebagian panti tetap buka seperti biasa. Anak-anak tersebut shocked luar biasa. Semasa Ramadhan, suasana ceria karena pengunjung dan undangan berbuka bersama datang tanpa henti. Tapi saat Lebaran kian dekat, tak ada lagi yang mengetuk pintu panti. Ayah bunda bisa ajak anak-anak mengunjungi teman-teman baru mereka di panti. Ini baru solusi sejati atas kekosongan hati.
“Siapkan celengan di sisi ranjang anak. Saban pagi dan sore, semangati anak untuk mengisinya. Pas Lebaran, berikan ke panti asuhan.”
7) Di bangsal anak-anak di rumah sakit, sekian banyak anak hanya bisa berbaring saat Lebaran tiba. Boleh jadi mereka kesepian dan merasa bosan.
“Ayah bunda bisa mengajak anak-anak menjenguk teman-teman mereka yang tengah sakit. Pastikan dokter mengizinkan, ya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s