Apa yang ada di “Stasiun Rawabuntu”..?
| Jadwal KRL Sepong – T. Abang (mulai berlaku 01 Agustus 2007 |
| AC Sudirman |
| No. KA | Dari Serpong | No. KA | Dari T. Abang |
| 335A | 06.20 | 345A | 07.15 |
| 373 | 06.30 | 382A | 08.45 |
| 381 | 07.10 | 378A | 15.30 |
| 359 | 08.30 | 362 | 16.30 |
| 377A | 09.30 | 376 | 17.40 |
| 383A | 16.15 | 384 | 17.47 |
| 383 | 17.10 | 366 | 18.20 |
| 377 | 18.35 | 386 | 18.35 |
| AC Ciujung |
| No. KA | Dari Serpong | No. KA | Dari T. Abang |
| 421 | 05.45 | 422 | 06.30 |
| 425 | 07.20 | 426 | 08.05 |
| 429 | 09.00 | 438 | 15.10 |
| 441 | 16.00 | 442 | 17.12 |
| 445A | 18.10 | 446 | 19.10 |
| Ekonomi |
| No. KA | Dari Serpong | No. KA | Dari T. Abang |
| 741 | 06.00 | 742 | 07.00 |
| 743 | 08.00 | 744 | 09.00 |
| 745 | 10.00 | 746 | 11.00 |
| 747 | 11.45 | 748 | 12.30 |
| 749 | 13.15 | 752 | 16.05 |
| 751 | 17.20 | 754 | 18.15 |
| 753 | 19.20 | 756 | 20.15 |
“Angkot” bernama KRL AC Ciujung
Setiap hari, KRL AC Ciujung terakhir Tanah Abang – Serpong berangkat jam 20.15pm harus menunggu KRL Ekonomi dari Bogor (berangkat jam 18.30), tapi kenyataannya sering terlambat daripada tepatnya.
Berikut Percakapan antara masinini/kondektur dengan penumpang :
Penumpang : Pak, kenapa belum berangkat..?
Kondektur/Masinis : Harus nunggu KRL Ekonomi dari Bogor.
Penumpang : sampai jam berapa pak..? (sambil jengkel, karena jam sdh menunjukkan pk. 20.30pm)
Kondektur/Masinis : Sampai KRL-nya datang, kasihan mereka tidak bisa pulang ke Serpong.
“Kalau mereka dikasihani juga tidak bener, mungkin mereka tidak mengharapkan demikian adanya, yang diinginkan KRL datang dan berangkat tepat waktu, sehingga penumpang yang terburu-buru karena ada pertemuan penting dan/atau kangen dengan keluarga mereka dapat segera pulang tapi tidak terlalu malam.”
Penumpang yang kesel segera pergi ngeloyor.
Tidak berapa lama kemudian, diumumkan KRL Ekonomi Bogor jurusan Tanah Abang sudah memasuki Stasiun Cawang.
Akhirnya KRL Ekonomi yang ditunggu-tunggu datang juga, KRL AC Ciujung berangkat kurang lebih pk. 21.00pm
Banyak penumpang yang menggerutu… uuuuuuuuu
“Ini KRL AC Ciujung atoe Angkot..?”
Tiket Elektronik KRL AC Ciujung dan Peron Stasiun Rawabuntu
Tiket elektronik KRL AC Ciujung dan Peron Stasiun Rawabuntu
Pengguna jasa Kereta Api yang hendak naik dan turun di peron 2 seringkali mengalami kesulitan terutama para ibu-ibu/kaum perempuan dan anak-anak. Untuk mengatasi tersebut beberapa penduduk setempat membuat tangga dari bambu dan kayu.
Menurut informasi yang beredar akan dibangun bulan depan alias bulan Agustus, itu juga kalau tidak molor.. semoga….
Seiring dengan diberlakukannya tiket elektronik untuk KRL AC Ciujung, banyak penumpang yang tidak mengembalikannya. Ada berbagai macam alasan seperti tidak tahu, tidak mengerti, lupa, dan yang tidak masuk akal dibuat koleksi (penulis mendengar langsung dari penumpang yang naik dari Stasiun Sudimara).
Padahal sangat jelas tertulis dibelakang tiket elektronik bahwa “Kartu ini milik PT. Kereta Api (KA) dan harus dikembalikan..”
Untuk memperoleh tiket elektronik langganan (abonemen) dikenakan biaya jaminan Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah). Banyak penumpang yang kecewa dengan cara ini, mengapa harus dibebankan kepada penumpang walaupun nanti dikembalikan jika tidak mau berlangganan lagi.
Kalau yang menjadi alasan kartu banyak yang hilang, mbok yach petugas ditambah dan jalan keluar masuk hanya satu pintu. Kita dapat belajar dan melihat sistim tiket elektronik BusWay, dimana untuk KA dirubah penumpang yang mau masuk menggesekan/menempel kartunya di pintu masuk dan kalau mau keluar harus memasukkan kartunya di mesin ticketing (kecuali yang berlangganan), saya rasa tidak akan ada tiket elektronik yang hilang lagi.
Ada beberapa usulan dari teman-teman penumpang alias RoKer (Rombongan Kereta) :
1. Setiap pintu masuk/keluar sudah ada mesin tiket elektronik dan manual (sudah terlaksana) dan petugas siap di lokasi.
2. Adakan sosialisasi setiap saat kepada penumpang baik pengumuman langsung atau spanduk untuk memiliki karcis (sudah pernah, perlu diulangi kembali).
3. Lakukan pemeriksaan rutin kepada penumpang, denda langsung kepada penumpang yang tidak memiliki karcis apapun alasannya (temasuk yang suka nebeng alias numpang di kabin masinis).
4. Berikan sangsi yang tegas kepada petugas KA (kondektur/masinis), jika ditemui masih mau menerima uang dari penumpang yang tidak memiliki karcis.
5. Ada Roker dan/atau rekan2x yang mau menambahkan…. silahkan…. thx
**** STOP PRESS *****
Kompas, Jumat 27 Juli 2007, Suara Pembaca :
Pada Sabtu (7/7) sekitar pukul 09.00 saya dan keluarga berkunjung ke tempat saudara di Serpong, Tangerang, dengan menggunakan kereta rel listrik atau KRL Tanah Abang-Serpong. Kami naik dari Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat, dengan pertimbangan kalau naik kereta waktu tempuh lebih cepat dan murah.
Setelah kami mendapatkan tiket ternyata ada imbauan dari petugas yang intinya pengguna jasa kereta yang tidak mempunyai tiket akan didenda. Namun, ditengah perjalanan sepertinya imbauan itu tidak digubris.
Sewaktu petugas memeriksa tiket banyak penumpang yang tidak mempunyai tiket tetapi tidak dikenai denda. Saya sempat bingung karena penumpang yang tidak memiliki tiket tidak merasa bersalah atau takut kepada petugas PT. KA yang mengontrol tiket.
Dalam kereta saya melihat pemandangan yang kurang menyenangkan, yaitu petugas tidak tegas dalam menindak penumpang yang tidak memiliki tiket. Hanya dengan memberi “Rp. 1.000,00″ kepada petugas, penumpang yang tidak mempunyai tiket dapat melanjutkan perjalanan. Mereka tidak dikenai denda oleh “oknum” petugas kontrol tiket.
Saya hanya ingin mengimbau petugas PT. KA untuk menindak tegas penumpang yang tidak disiplin dalam menaati peraturan yang diterapkan, dan jangan pernah “tukar harga diri dengan uang Rp. 1.000,00″
Saya berharap pihak yang berwenang menindak tegas petugas yang melakukan tindak kecurangan diatas kereta.
******
Begitulah sesungguhnya yang terjadi sehari-hari di kereta api, semua bisa dihargai dengan uang, tidak ada lagi rasa malu, baik yang memberi maupun menerima. Kalau ada petugas yang galak malah dibenci dan/atau dicemooh.
******
Berikut alamat email ke PT. KAI :info@kereta-api.com
**********
Tiket Elektronik dan KRL AC Ekonomi
Tiket Elektronik, diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 04 Juli 2007.
Tiket dibeli berdasarkan tujuan, jika tidak pintu otomatis tiket tidak akan membuka.
Semua alat-alat pendukung tiket elektonik dibuat oleh putra-putri Indonesia.
Pada tanggal 07 Juli 2007, peresmian pengoperasian KRL AC Ekonomi jurusan Serpong-T. Abang pp dengan nama KRL AC Ekonomi Ciujung dengan harga tiket normal Rp. 6.000,00 dan Rp. 5.000,00 selama promosi.
Jadwal Kereta sbb:
Dari T. Abang ke Serpong : Pk. 06.35am – 08.35am – 16.55pm – 18.35pm – 20.15pm
Dari Serpong ke T. Abang : Pk. 05.45am – 07.45am – 09.30am – 17.45pm – 19.25pm
Pendaftaran tiket berlangganan dimulai pada hari Rabu 11 Juli 2007 di Stasiun Serpong-Sudimara-Pondokranji-Kebayoran-Palmerah dan Tanahabang.
Untuk berlangganan, setiap pelanggan harus menyertakan fotocopy ktp atau sim. Harga langganan Rp. 170.000,00 dengan rincian Rp. 15.000,00 untuk jaminan tiket dan Rp. 155.000,00 untuk abonemen (44 kali perjalanan).
