johannesharry.wordpress.com

Memberi-Mengasihi-Mencintai Apa Adanya

Tahta Suci Vatikan Melarang Pernikahan Sesama Jenis

Hubungan sejenis: Immoral.

 

Penguasa gereja Katolik tertinggi di Roma, Tahta Suci Vatikan,

mengimbau para politisi di seluruh dunia untuk melarang pernikahan

sesama jenis. Tahta Suci menyebut perkawinan sesama jenis

sebagai “tidak bermoral.” Sejak tahun 2001 Negeri Belanda telah

memberi kesempatan kepada pasangan sesama jenis untuk menikah. Para

politisi Belanda tampaknya tidak akan terpengaruh imbauan Roma

tersebut.

 

Tidak Bermoral

 

“Perkawinan antara seorang pria dan seorang perempuan adalah suci,

sedangkan berbagai bentuk hubungan seksual sesama jenis itu tidaklah

bermoral’. Demikian Gereja Katolik Roma kembali menegaskan

penolakannya terhadap pernikahan sesama jenis yang dituangkan

dalam “pertimbangan- pertimbangan dalam hubungan sesama jenis”.

Menurut gereja Katolik, perkawinan sesama jenis tidaklah bermanfaat

bagi masyarakat, karena tidak bisa menghasilkan keturunan. Padahal

keturunan yang dihasilkan oleh perkawinan adalah ‘rahmat kehidupan’..

Demikian ditandaskan Vatikan. Di samping pernikahan sesama jenis,

Vatikan juga melarang pengangkatan anak atau adopsi bagi para

pasangan sesama jenis, karena menurut Roma hal itu bisa ‘merugikan

anak-anak’. Alasannya karena anak-anak yang diadopsi oleh pasangan

sesama jenis tidak bisa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung

perkembangan anak sepenuhnya.

 

IMbauan Kepada Politisi

 

Pesan Vatikan ini sebenarnya sudahlah basi. Namun yang baru adalah

imbauan yang ditujukan secara terang-terangan kepada politisi untuk

menentang pernikahan sesama jenis. Dalam pemungutan suara mengenai

undang-undang yang memberikan kesempatan bagi pernikahan sesama

jenis, seorang politikus Katolik pernah mengatakan ’sebagai kewajiban

moral untuk terang-terangan menentang undang-undang semacam itu serta

menolaknya’. Apabila sebuah negara memiliki undang-undang seperti

itu, contohnya saja Belanda, maka para politisi harus bertindak

sekuat tenaga untuk membatalkan seluruh undang-undang tersebut.

Pokoknya, politisi harus menunjukkan bahwa mereka terang-terangan

menentang pernikahan sesama jenis.

 

Politisi Katolik Belanda Tidak Menanggapi

 

Para politisi katolik Belanda tidak akan menanggapi imbauan Vatikan..

Partai Kristen Demokrat CDA menyatakan bahwa Belanda mengenal

pemisahan gereja dan negara. Oleh karena itu, Tahta Suci tidak

seharusnya ikut campur dalam urusan politik. Politisi memiliki

tanggungjawabnya sendiri dan itu bisa digunakan dalam pemungutan

suara. Jurubicara CDA yang juga anggota gereja protestan Kathleen

Ferrier mengatakan, “Ya, itu adalah tanggungjawab pribadi para

politisi yang beragama Katolik. Mereka yang harus mempertimbangkan

sendiri ketentuan Vatikan ini, dalam pertimbangan mereka.”

 

Tutup Saja Kedutaan Besar Vatikan

 

Partai Hijau Groen Links, menghendaki agar duta besar Tahta Suci

Vatikan di Belanda ditutup saja. Menurut partai tersebut, imbauan

Vatikan terhadap para politisi yang beragama Katolik ‘tidak bisa

diterima’. Vatikan boleh saja menyampaikan pendapatnya, tapi tidak

boleh berupaya menekan para politisi yang telah dipilih secara

demokratis. Namun bagi Partai Kristen Demokrat CDA, keinginan Kiri

Hijau ini terlalu berlebihan. “Vatikan berhak menyuarakan

kehendaknya, seperti halnya para politisi yang juga berhak

mengesampingkan saja imbauan Tahta Suci tersebut,” tambah jubir CDA..

 

Juklak Perkawinan Homo

 

Imbauan Vatikan itu tidak diterima oleh organisasi-organisa si pembela

hak kaum homoseksual. Organisasi kaum homo Belanda COC dan Gaykrant,

yaitu surat kabar khusus untuk kaum homo, justru memutuskan untuk

menerbitkan semacam juklak internasional untuk bisa menggolkan undang-

undang perkawinan sesama jenis. Juklak atau pedoman setebal 60

halaman itu menjelaskan bagaimana pernikahan sesama jensi diatur.

Redaktur Gaykrant Henk Krol mengatakan, “Kami dari Gaykrant ingin

mempublikasikan sebuah pedoman tentang bagaimana membuka pernikahan

sesama jenis secara legal. Perjuangan di Belanda sendiri membutuhkan

waktu 16 tahun. Dan kami telah banyak belajar, bagaimana untuk bisa

mengubah sikap masyarakat, dan bagaimana berbicara dengan wakil-wakil

di parlemen. Kami ingin membagi pengalaman dengan gerakan gay di

seluruh dunia untuk bisa melakukan ini semua.”

 

Sodom Gomora Modern

 

Dipertanyakan apakah Vatikan secara khusus membidik Belanda. Sejak

1998, Belanda telah membuka peluang bagi sesama jenis untuk

mencatatkan hubungan mereka secara resmi sedangkan sejak April 2001,

pernikahan sesama jenis telah diakui. Tampaknya imbauan itu terutama

ditujukan untuk memperingatkan negara-negara yang sedang

mempersiapkan undang-undang serupa. Selandia Baru, Swiss, dan

Britania misalnya sedang menggodok undang-undang seperti itu.

Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat dan Kanada juga berkehendak

mengesahkan perkawinan sesama jenis. Henk Krol berpendapat bahwa

imabaun paus itu terutama ditujukan pada negara-negara di Eropa dan

Amerika Selatan. “Saya tidak merasa terancam di Belanda. Kami

memiliki hukum yang sangat baik dan pernikahan sipil yang terbuka,

bukan hanya untuk pasangan lawan jenis tetapi juga untuk pasangan gay

mau pun lesbian. Tidak ada yang kami takutkan. Tetapi saya khawatir

upaya gerakan gay di berbagai negara, di mana pengaruh gereja

Katolik masih sangat kuat, akan dibungkam selama beberapa tahun,”

tambah Krol.

 

Sumber : Milis Rohani

Senin,April 13, 2009 Ditulis oleh johannesharry | Siraman Rohani | | & Komentar

Penolakan KWI-PGI-PGLII Atas Perayaan Paskah Nasional 2009

                                                                                 02 April 2009

                                                                                 Yang Terhormat
                                                                                 Menteri Agama R.I.

                                                                                 Bapak H.Maftuh Basyuni
                                                                                 Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4
                                                                                 Jakarta 10710

 

Dengan hormat,

Melanjutkan pertemuan antara PGI, KWI dan PGLII dengan Bapak menteri Agama pada tanggal 1 April 2009, di kantor Menteri Agama, melalui surat ini kami hendak menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1.  PGI, KWI dan PGLII sejak awal tidak dalam posisi mendukung agenda Perayaan Paskah Bersama Umat Kritiani Tingkat nasional th.2009, yang diadakan oleh Panitia Perayaan Paskah Bersama Umat Kristiani Tingkat Nasional tahun 2009, sebagaimana tertuang dalam  SK Menteri Agama No. DJ. IV/Hk.005/14/ 2009 dan DJ.III/Hk.005/ 81/2009 tentang pembentukan Panitia Perayaan Paskah Bersama Umat Kriatiani Tingkat Nasional th.2009.

2.  Adapun pertimbangan kami menolak untuk menyetujui acara Perayaan Paskah Bersama Umat Kristiani Tingkat Nasional tahun 2009 ini adalah:

a.  Pengalaman kami tentang Perayaan natal Nasional 2008, yang menurut kami telah menyimpang dari substansi dan menodai kekudusan hari raya keagamaan.  Mengenai hal ini, PGI dan KWI telah menyampaikannya dalam surat yang berisi kritik dan tanggapan kepada Panitia Natal Nasional 2008 (terlampir).

b.  Kita semua tahu bahwa tahun 2009 adalah “tahun politik” di mana akan diadakan Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden, sehingga gagasan untuk merayakan Paskah tingkat nasional yang diadakan di tahun 2009 ini tidak dapat kami setujui dan dukung, karena momentumnya kurang tepat, dan sangat beresiko bahwa pengalaman Natal Nasional 2008 yang lalu akan terulang kembali.

c.  Kegiatan ini menurut rencana akan dilaksanakan pada tanggal 18 April 2009, dan ini akan terasa terlalu mepet untuk mempersiapkannya, dengan memperhitungkan bahwa di banyak gereja masih dilaksanakan perayaan paskah internal.

3.  Kami juga hendak menegaskan di sini bahwa perayaan-perayaan keagamaan yang bersifat Nasional seyogianya harus diadakan oleh pihak gereja, dan bukan oleh Negara atau pribadi-pribadi tanpa berkonsultasi dengan institusi gerejawi tingkat nasional.

Demikianlah surat ini kami sampaikan dengan harapan bahwa Pemerintah c.q.Menteri Agama dapat memahami pesan moral dan aspirasi Pimpinan PGI, KWI dan PGLII.

Atas perhatian Bapak kami ucapkan terima kasih.

 

 

         PGI                                                      KWI                                            PGLII

  

Pdt.Dr.A.A.Yewangoe             Mgr.M.D.Situmorang, OFM.Cap      Pdt.Dr.Solvianus Reimas

      Ketua Umum                                Ketua                                 Ketua Umum

 

Pdt.Dr.Richard M.Daulay, MA    Mgr.A.M.Sutrisnaatm aka, MSF       Pdt.Drs.Ign. Dachlan S

   Sekretaris Umum                      Sekretaris Jenderal               Wakil Sekretaris Umum

 

Tembusan:

  • Pimpinan Gereja Seluruh Indonesia,
  • Dirjen Bimas Katolik,
  • Dirjen Bimas Kristen

Sumber : Milis Rohani

Rabu,April 8, 2009 Ditulis oleh johannesharry | Siraman Rohani | | No Comments Yet

Miracle Masih Ada

*Kanker disembuhkan dengan Doa dan Pasrah kepadaNya*

3 bulan yang lalu, mama terkena kanker tulang stadium 4 b. Yang artinya
sudah stadium akhir dengan pemeriksaan melalui bone scan (nuklir) dan
pemeriksaan darah menunjukkan adanya sel-sel ganas di luar ambang
batas. Scan berhasil menunjukkan 5 tempat hitam (yang menunjukkan bahwa
sudah terkena kanker) yaitu di pinggul, lutut kanan, tulang punggung,
bahu-tangan kanan, dan tulang tengkorak. Serta beberapa bagian lain
yang mulai tampak abu-abu ke hitam.. Sedangkan bagian lain yang belum
menyebar, berwarna putih bersih.

Keluarga sudah membawa dia ke beberapa dokter ahli tulang, ahli
patologi dan terutama khusus kanker tulang. Semua jawaban tetap sama:
mengingat umurnya yang sudah hampir 75, dan karena tak ada gunanya juga
di chemotherapy (karena akan terlalu menyakitkan untuk dia) maka
keluarga disarankan untuk merawat dia di rumah saja. Percuma di rumah
sakit, begitu mereka bilang. Perkiraan mereka: 1-3 bulan saja usianya
(kalau dia bisa makan dengan normal) sisanya, tinggal menunggu koma.

Sedangkan, beberapa hari setelah vonis dokter itu, mama mulai
menjerit-jerit kesakitan di tempat-tempat yang memang tampak hitam
dalam scan. Dan sudah sulit sekali untuk makan! Bahkan minum juga.
Karena kadang ia tidak mampu lagi menelan. Ini tidak heran kata dokter,
mengingat penyebarannya sudah sampai tulang punggung dan tengkorak?
Dokter-dokter hanya memberi morfin, karena memang kata mereka sakitnya
tidak tertahankan.

Seorang teman kakak yang lebih muda, ternyata baru saja meninggal karena
kanker tulang dan itu pun hanya terdapat di lutut kirinya. Ia berobat
di Singapore , tanpa hasil malah semakin parah. Teman yang lain pun
menyatakan bahwa orangtuanya setelah dibawa ke Amerika pun hanya
diberikan morfin sebagai pain killer. Keluarga semakin bingung,
sedangkan melihat penderitaanya pun rekan-rekan yang menengok pasti
menangis. Apalagi kita, anak-anaknya?

Suatu kali, mama dalam jeritan kesakitannya minta dibaptis. Ia minta
ijin pada satu kakak saya yang kebetulan sama beragama Kong Hu Chu
dengan mama. (Yang lain sudah menjadi Kristen atau Katolik)

Mama minta cepat-cepat di baptis karena dia sudah tidak tahan lagi
dengan kesakitannya dan beliau juga bilang, takut waktunya sudah tidak
ada lagi.

Koko saya menangis. Dan akhirnya menyetujui. Memang, beberapa waktu
sebelumnya, mama pernah bilang ingin minta dibaptis secara katolik.
Diakon datang, untuk menyakan, apakah ini keinginan sendiri atau
terpaksa. Mama sudah menjawab, bukan. Ia memang ingin dibaptis sendiri.

Akhirnya besok paginya ia dibaptis (kira-kira 2,5 bulan dari sekarang).
Pastor sekaligus memberikan sakramen perminyakan. Pada saat ia dibaptis
pun sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak. Yang anehnya, 3 jam
setelah dibaptis, ia bisa tiba-tiba bangun sendiri dan berteriak
memanggil anak-anaknya. Namun setelah itu, ia kembali terkulai dan
kondisinya semakin memburuk.

(bergeser/bergerak sedikit saja ia sudah tidak mampu karena sakitnya!)

Keanehan lain, dua hari berturut-turut setelah baptis, ia minta komuni.
Padahal mama tidak pernah mengerti apa itu komuni! Setiap satu minggu
sekali ada Diakon yang datang untuk memberikan komuni. Setelah 3-4 kali
komuni, kondisi kesehatannya membaik. Ditandai dengan kemampuannya untuk
bergerak dan makan.

Beliau juga sudah tidak lagi menjerit-jerit kesakitan. Kami merasa
heran, bahkan dokter yang memeriksanya pun berdecak kagum.

Karena dengan demikian, mama sama sekali tanpa pengobatan. Segala
selang infus untuk makanan yang tadinya ia pakai, sekarang tidak terpakai.

Bahkan, sebelumnya kami sudah menyiapkan oksigen, karena mama
sebelumnya sudah mulai sulit bernafas. Kami heran, semua tak percaya.
Dokter mengatakan, tak ada penjelasan logis atas semua ini.

Kami sudah tak sabar untuk melihat hasil bone scan lagi mid-November
ini (karena hanya boleh dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan) untuk
mengetahui apa yang terjadi. 2 minggu yang lalu, seorang kerabat yang
melihat kondisi mama membaik, dia menyatakan ketidak percayaannya.

Ia minta maaf karena dengan mengatakan ini ia sudah menyinggung kami
yang kristen/katolik, tapi ia berkata, tak percaya dengan yang namanya
mujizat! Mujizat itu tidak ada, yang ada hanyalah…. mungkin,
kesalahan diagnosa.

Koko saya yang beragama Kong Hu Chu pun malah mendukung kita, bahwa
tidak mungkin ada salah diagnosa. Ada bukti ilmiah tentang sakitnya dari
bone scan dan test darah! Bahkan dia pun berpikir, ini keajaiban.

Sampai mid November kemarin, kami tidak bisa berkata apa-apa. Karena
sejak semula, anak-anaknya pun hanya berdoa dengan pasrah pada kehendak
Tuhan dan mohon dengan kemurahan hatiNya, mama tidak menjerit-jerit
kesakitan lagi, itu pun sudah cukup. Tapi melihat beliau mulai berjalan
lagi…bahkan mulai mau ke dapur memasak lagi….amazing!

Hasil bone scan keluar. Dokter yang memeriksanya pun terperangah dan
bertanya, obat apa yang kita berikan kepada mama.

Karena seandainya di chemo pun, kondisi mama tidak mungkin sebaik dan
secepat ini, mengingat usianya.

Yesus yang luar biasa, menunujukkan kemuliaanNYa. Saat kami bilang mama
tidak diobati. Dokter tersebut (yang kebetulan beragama Muslim) berkata
bahwa ini mustahil. Ini keajaiban. Karena scan menunjukkan, hitam di 5
tempat sebelumnya sekarang hanya tinggal 1, yaitu tinggal yang di
tulang panggul! Koko saya bertanya, selanjutnya pengobatan apa yang
harus kita lakukan untuk beliau?

Dokter cuma menjawab, ‘Ya tidak ada! Lanjutkan saja apa yang kalian
lakukan selama ini. Yang kalian lakukan hanya berdoa kan? Jangan
berhenti berdoa kalau begitu. Karena ini keajaiban!’

Tidak puas dengan pernyataan dokter ini, koko memeriksa hasil kepada
dokter patologi lain. Dia pun menyatakan ketidak percayaannya dengan
kagum. ‘Ini mujizat!’ katanya. (rupanya ia katolik/kristen) Baru koko
saya pun percaya.

This is miracle. Buat saya sendiri, ini tidak dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Karena tadinya, cukup buat saya tidak melihat beliau
menjerit-jerit kesakitan, ternyata Yesus memberi lebih dari yang kami
semua, anak-anaknya harapkan. Sebab sebelumnya kami semua sudah rela,
menerima bahwa ia dipanggil Tuhan, daripada ia menahan kesakitan yang
luar biasa. Kami pun mengerti, bahwa kami tidak berharap pada sesuatu
yang muluk-muluk. .. tapi seandainya suatu saat mama dipanggil nanti,
mama sudah digunakan Tuhan sebagai alat untuk menunjukkan, bahwa apa
yang mustahil bagi manusia, tak ada yang mustahil bagi Dia. Tak ada
obat yang lebih kuasa dari pada Yesus, Anak Domba Allah itu sendiri.

Saya merasa tidak baik untuk menyimpan kesaksian kemuliaan Tuhan ini
untuk keluarga sendiri saja.

Saya berharap, dengan Kemuliaan Tuhan ini, dapat menjadi inspirasi iman
dan pengarapan buat semua orang yang saya kenal.

Ada ucapan Rm Yohanes di bukunya yang amat saya sukai : Kesembuhan
fisik hanyalah sarana…. untuk menuju Tuhan, karena pada dasarnya
setiap orang harus meninggal..

SUMBER : Milis Rohani

Selasa,April 7, 2009 Ditulis oleh johannesharry | Siraman Rohani | | No Comments Yet